Refleksi kegiatan

Bukan hanya manusia saja yang ingin merencanakan masa depan, kitab suci juga memberikan banyak sekali pandangan mengenai merencanakan masa depan. “Sebab siapakah diantara kamu yang kalau mau membangun sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu.” Injil Lukas 14:28 mengatakan bahwa perencanaan merupakan bentuk kejujuran terhadap kemampuan diri. Ajaran alkitab ini bukan berarti meremehkan kemampuan seorang, namun mengajak kita untuk tetap realistis dan bertanggung jawab agar tujuan kita benar benar tercapai. Perencanaan melindungi kita dari rasa malu dan kegagalan yang sia-sia. Tuhan tidak ingin kita bertindak sembrono atau nekat atas nama iman tanpa mempertimbangkan kesiapan sumber daya (waktu, tenaga, finansial) yang kita miliki. Dengan berencana, kita menghormati sumber daya yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Selain bersikap realistis, perencanaan dalam kitab suci sering dikaitkan dengan kerja keras dan manajemen waktu. Amsal 28:19 mengatakan “Orang yang mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi orang yang mengejar kesia siaan akan kenyang dengan kemiskinan.” Ayat ini membandingkan dua tipe orang yang memiliki rencana dan disiplin serta orang yang hidup tanpa tujuan atau mengejar kesia-siaan. Alkitab mengatakan bahwa ketika kita disiplin dan memikirkan masa depan dan rencana dengan baik, kita dapat menjadi orang yang sukses di masa depan. Hal ini menunjukan kepada kita bahwa masa depan/ kesuksesan tidak jatuh begitu saja dari langit, melainkan hasil dari benih yang ditanam dan dirawat setiap harinya. Dalam injil ini, kita dapat melihat pendapat asli Alkitab mengenai merencanakan masa depan. Tak hanya itu saja, Tuhan Yesus sering mengajarkan agar kita teliti dalam memilih destinasi dan menetapkan tujuan akhir yang pasti agar kerja keras tidak sia sia. Matius 6:20-21 berkata "Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga... Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Seringkali manusia merencanakan masa depannya dengan terpaku pada hal hal duniawi seperti kekayaan dan kenyamanan. Namun, injil ini mengingatkan bahwa terkadang rencana yang paling bagus adalah rencana yang berdampak hingga kekekalan. Bukan berarti kita dilarang menabung atau investasi, tapi hanya mengingatkan agar fokus utama rencana kita tidak tertuju kepada hal yang materialistis. Oleh karena itu, Alkitab ingin mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendiri melalui injil Yohanes 14: 26 yaitu "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus... Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." Ketika kita merencanakan masa depan, Alkitab ingin kita selalu mengingat bahwa kita tidak perlu takut akan ketidakpastian di hari esok karena adanya Roh kudus yang selalu menjadi pemandu yang lebih tahu jalan di depan kita daripada kita sendiri. Namun, terkadang tidak semua orang dapat merencanakan masa depan dengan baik. Atau bahkan, masa depan yang sudah direncanakan dan sudah dijalankan dengan baik dapat sewaktu waktu ditarik kembali oleh Tuhan. Orang orang yang kecil, miskin, terpencil, dan difabel memiliki masa depan yang cerah namun terhalang dengan keterbatasan yang dimilikinya. Oleh karena itu, kelompok kami memutuskan untuk mencoba dan meringankan keterbatasan yang dialami mereka semampu kami. Kelompok kami beserta dengan seluruh kelas 91 memutuskan untuk melakukan kunjungan ke panti asuhan Hati Bangsa yang dekat dengan sekolah Santa Ursula. Kami melakukan pembagian bantuan dalam kelompok, dikarenakan kegiatan kunjungan tidak akan diikuti oleh semua anggota kelompok. Meskipun begitu, kelompok kami tetap ingin membantu pelaksanaan kegiatan ini meskipun hanya behind the scenes. Anggota yang tidak mengikuti kegiatan kunjungan, yaitu Jovi, Carly, Joya, dan Olla telah membantu dengan menyisihkan hasil keuntungan bazarnya, serta memberikan ide perlengkapan apa saja yang dapat membantu kehidupan sehari hari mereka. Selain itu, mereka juga turut memberikan kontribusi besar melalui donasi pribadi. Dalam kelompok kami, Charlotte dan Stevy menjadi anggota yang terpilih untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menjadi pelaksana rencana belanja serta kunjungan. Charlotte telah berbaik hati membantu tim sembako dengan memberikan tumpangan dalam bentuk mobil. Charlotte, Stevy dan beberapa anak kelas 91 lainnya bertugas untuk belanja sembako yang panti asuhan tersebut butuhkan/ mungkin butuhkan.

Pentingnya memiliki cita cita

Cita-cita adalah keinginan, harapan ataupun tujuan yang terus ada di dalam pikiran seseorang, dan merupakan sesuatu yang ingin mereka wujudkan di masa depan. Memiliki cita-cita sangat penting karena berfungsi sebagai motivasi, arah hidup dan menjadi pendorong untuk orang agar ingin terus bekerja keras dan berkembang. Tanpa adanya cita-cita, seseorang akan menjalani harinya berdasarkan rutinitas karena tidak memiliki tujuan yang jelas. Dengan adanya cita-cita, kita bisa menentukan prioritas sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk menggapai cita-cita tersebut. Selain itu, perjalanan hidup tidak selalu mulus. Ketika ada seseorang yang memiliki target yang ingin ia capai, ia juga tanpa langsing memiliki alasan untuk terus bangkit ketika menghadapi kegagalan.

Usaha dalam menggapai cita cita

Berdasarkan pengalaman bazar dan penampilan kelompok, kami belajar bahwa ada banyak usaha konkret yang dapat kami lakukan untuk menggapai cita-cita. Bazar yang sukses juga merupakan salah satu cita-cita kami, kelompok 4, maka kami melakukan berbagai hal untuk mencapainya.
1. Memanajemen waktu dengan baik. Selama persiapan bazaar, kami menyadari bahwa waktu merupakan suatu hal yang sangat berharga. Kami belajar untuk membagi tugas secara jelas, menyelesaikan tugas sebelum waktu deadline. Usaha yang kami lakukan disini adalah memiliki timeline yang jelas, sehingga tugas tidak menumpuk dan dikerjakan pada detik terakhir. Dalam kehidupan yang nyata, untuk mencapai cita-cita kita harus memiliki kedisiplinan waktu karena kemampuan mengatur prioritas dan waktu kita merupakan kunci untuk terus produktif di tengah banyaknya kesibukan lain.
2. Bersikap pantang menyerah dan siap secara mental. Selama proses kami menuju pelaksanaan bazar, kami tentunya telah menghadapi banyak masalah dan hambatan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, bahkan terkadang mengalami kegagalan total. Namun kita tidak cepat menyerah dan secara cepat mencari-cari solusi baru untuk menyelesaikan masalah yang muncul. Hal ini relevan dalam kehidupan kita yang ingin mencapai cita-cita, karena kami pasti akan menghadapi berbagai masalah yang bisa membuat kita ingin menyerah. Tetapi sikap pantang menyerah bisa menjadi sebuah pendorong bagi kita untuk terus berjuang.
3. Bekerja sama antara tim dan berkomunikasi. Kesuksesan kelompok kami bukanlah hasil dari kerja satu orang, tetapi merupakan hasil kolaborasi kelompok kami yang saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai tugas. Dalam kehidupan nyata, kami tentunya tidak dapat berjalan dan mencapai cita-cita jika berjalan sendirian, tetapi kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Maka, meningkatkan kemampuan komunikasi yang jelas dapat membantu kita membangun jaringan dan akhirnya saling berkomunikasi dengan orang-orang yang kami memiliki minat yang sama.
4. Meningkatkan kemampuan problem solving dibawah tekanan. Selama pelaksanaan bazar, ada berbagai hal yang tidak berjalan dengan mulus. Seperti proses awal dari penampilan kelompok kami yang mengalami banyak kekurangan akibat kurang fokus terhadap penampilan kami. Namun, kami menyesuaikan waktu kami untuk bekerja sama sehingga kami pada akhirnya berhasil untuk melakukannya dengan cukup lancar. Hal ini relevan untuk mencapai cita-cita, karena perjalanan untuk mencapai hal yang kita inginkan tidak selalu akan berjalan dengan mulus, maka kita membutuhkan kemampuan problem solving, sehingga kita bisa bekerja dengan baik bahkan dibawah tekanan.
5. Ketelitian dalam menganalisa dan fokus terhadap detail-detail kecil. Selama perencanaan bazar IL, kami mencari tahu dan menghitung berbagai aspek agar hasil tugas kami tidak mengalami pengurangan nilai akibat kesalahan-kesalahan kecil. Hal ini relevan dalam menggapai cita-cita, karena untuk menggapai cita-cita, kita harus fokus kepada detail-detail kecil dan bekerja secara sungguh-sungguh terhadapnya.

Scroller Image 1 Scroller Image 2 Scroller Image 3 Scroller Image 1 Copy Scroller Image 2 Copy Scroller Image 3 Copy